100 Meter Kaligrafi Minangkabau: Bukti Literasi Global dari Ranah Minang
Padang – International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 kembali menghadirkan ruang dialog budaya lintas bangsa melalui pameran kaligrafi sepanjang 100 meter karya seniman Muslim Tionghoa terkemuka, Prof. Yusuf Liu Baojun. Karya monumental tersebut tidak hanya menjadi atraksi seni, tetapi juga menyampaikan pesan perdamaian, literasi, dan persahabatan antarbangsa.
Pameran yang digelar di Istana Bung Hatta, Bukittinggi, Jumat (5/6/2026), merupakan bagian dari rangkaian IMLF ke-4 dan peringatan 100 Tahun Jam Gadang. Kegiatan itu menjadi salah satu magnet utama festival internasional yang menghadirkan delegasi seniman, budayawan, sastrawan, dan pegiat literasi dari 38 negara.
Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir yang hadir dalam kesempatan tersebut menilai pameran kaligrafi itu menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi medium yang efektif untuk mempertemukan berbagai latar budaya, agama, dan bangsa dalam satu ruang dialog yang inklusif.
Di hadapan bentangan karya sepanjang 100 meter yang didominasi sapuan tinta hitam khas kaligrafi Timur, Maigus melihat adanya perpaduan antara nilai estetika, spiritualitas, dan literasi yang mampu menyentuh berbagai kalangan.
“Pameran ini menjadi ruang pertemuan yang indah antara seni, budaya, literasi, dan nilai-nilai keagamaan. Karya yang ditampilkan tidak hanya memiliki nilai artistik yang tinggi, tetapi juga mengandung pesan moral dan spiritual yang memperkaya wawasan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Maigus, kehadiran seniman internasional dalam IMLF memperkuat posisi Sumatra Barat sebagai daerah yang terbuka terhadap pertukaran gagasan dan kolaborasi budaya di tingkat global. Momentum tersebut juga menjadi peluang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Minangkabau kepada masyarakat dunia.
Ia menilai kegiatan berbasis seni dan literasi seperti IMLF memiliki peran strategis dalam membangun jejaring internasional sekaligus memperkuat citra daerah sebagai pusat kebudayaan yang dinamis.
Melihat besarnya antusiasme masyarakat terhadap karya Prof. Yusuf Liu Baojun, Maigus bahkan menyampaikan harapannya agar seniman asal Tiongkok tersebut dapat hadir kembali di Kota Padang pada peringatan Hari Jadi Kota Padang ke-357 yang akan digelar pada Agustus 2026 mendatang.
Sebagai bentuk apresiasi dan simbol persahabatan budaya, Prof. Yusuf Liu Baojun menyerahkan buku karyanya berjudul Cina Muslim dan Hubungannya dengan Alam Melayu kepada Maigus Nasir. Buku tersebut mengulas hubungan historis dan budaya antara komunitas Muslim Tionghoa dengan kawasan Melayu yang telah terjalin selama berabad-abad.
Dalam keterangannya, Prof. Yusuf mengatakan bahwa kaligrafi tidak sekadar menjadi ekspresi seni visual, tetapi juga sarana menyampaikan pesan-pesan universal yang melampaui batas negara dan budaya.
“Kaligrafi bukan sekadar seni menulis, tetapi media untuk menyampaikan pesan perdamaian, kebijaksanaan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Saya merasa terhormat dapat menampilkan karya ini di tanah Minangkabau,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Minangkabau memiliki kekayaan budaya yang kuat dan relevan untuk menjadi ruang penyebaran nilai-nilai kemanusiaan melalui seni dan literasi.
Melalui karya sepanjang 100 meter tersebut, Prof. Yusuf berharap lahir ruang perjumpaan yang mampu mempererat hubungan antargenerasi sekaligus memperkuat persahabatan antarbangsa.
“Saya berharap pameran ini dapat menginspirasi generasi muda untuk mencintai seni, literasi, dan budaya, serta memperkuat hubungan persahabatan antara Indonesia dan berbagai negara yang hadir dalam IMLF,” ujarnya.
Pameran kaligrafi ini menjadi bukti bahwa seni dapat berfungsi lebih dari sekadar ekspresi estetika. Di tengah pertemuan delegasi dari puluhan negara, karya Prof. Yusuf Liu Baojun tampil sebagai simbol dialog budaya yang mempertemukan nilai-nilai spiritual, literasi, dan kemanusiaan dalam satu narasi global yang dibangun dari tanah Minangkabau.

Posting Komentar untuk "100 Meter Kaligrafi Minangkabau: Bukti Literasi Global dari Ranah Minang"